jangan.. Bokeb Tidak kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yg kami gunakan semakin kuat bergoyg dan berderak-derak. Kukedip-kedipkan mataku, dan berkali ? Kupelototi dia sehingga dia cepat-cepat lari ngibrit sambil terkikik-kikik. Karena masih berhubungan keluarga, ia sering juga datang dan menginap di rumahku ketika dia lagi “buka praktek” di kotaku. Tubuh Juminten terasa bergoyg- goyg, semakin lama semakin keras. Asap dupa segera memenuhi ruangan kecil itu.“Siapa namamu, Cah Sara?”tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan persiapan.“Juminten, Kakek” katanya. Meskipun ilmunya, dibandingkan dgn ilmu Kakekmu ini, masih cetek banget.” Katanya dgn meyakinkan dan mata melotot.Aku menggaruk kepalaku. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (tidak apa-apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Sekarang dia benar-benar wudo blejet (telanjang bulat) di depanku.Nah pembaca, karena cerita ini adalah




















