Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi,setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuiltempat duduk.Terima kasih, ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkanlagi, sehingga tidak perlu curicuri pandang meliriklehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehinggaterlihat garis bukitnya.Saya juga tidak suka angin kencangkencang. Bokep Barat Lalu ngomong apa? Ia memulai pijitan. Dari jarak yang dekat ini hawa panastubuhnya terasa. Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Kring..!Mbak Wien, telepon. Tetapi sejak tadi aku tidakmelihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadimengerlingkan mata ke arahku. Mendadak jari tanganku dingin semua. Haruskahkujawab sapaan itu? Suara itu lagi.Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta akumenutup kaca angkot. Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Makin lama makin jelas.




















